BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Transportasi
Transportasi adalah suatu
kegiatan untuk memindahkan sesuatu
(orang atau barang) dari satu tempat ke tempat lain, baik dengan atau
tanpa sarana. (Setijowarno dan R.B.Frazila, 2001)
Menurut UU No. 14 tahun 1992 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan, pada pasal 1 ayat 9 dijelaskan bahwa yang
dimaksud kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk
dipergunakan oleh khalayak umum dengan dipungut bayaran. Sedangkan menurut (Suwardjoko
Warpani, 1990), angkutan umum peumpang (AUP) adalah angkutan penumpang yang
dilakukan dengan system sewa atau bayar. Yang termasuk angkutan umum penumpang
(mikrolet, bus, minibus dan sebagainya). Tujuan utama keberadaan angkutan umum
penumpang adalah menyelenggarakan
pelayanan angkutan umum penumpang adalah menyelenggarakan pelayanan angkutan
yang baik dan layak bagi masyarakat. Ukuran pelayanan yang baik adalah
pelayanan yang aman, cepat, murah, tepat waktu dan nyaman.
Dalam UU No. 14 tahun 1992
pasal 1 ayat 8 yang di sebutkan perusahaan angkutan umum adalah perusahaan
yang menyediakan jasa angkutan orang dan
atau barang dengan kendaraan umum di jalan. Kewajiban perusahaan angkutan dalam
memberikan pelayanan pada penumpang ditetapkan pada pasal 36 UU No. 14 tahun
1992, pelayanan tersebut terdiri dari :
a.
Angkutan
antar kota merupakan pemindahan orang dari satu kota ke kota lain.
b.
Angkutan
kota merupakan pemindahan orang dalam wilayah kota.
c.
Angkutan
pedesaan yang merupakan pemindahan orang dalam dan atau antar wilayah pedesaan.
d.
Angkutan
lintas batas Negara yang merupakan angkutan orang yang melalui lintas batas
negara lain.
2.2 Karakteristik Ekonomi Transportasi
Angkutan adalah pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke
tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Prosesnya dapat dilakukan menggunakan
sarana angkutan berupa kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. Untuk
memahami permintaan jasa transportasi dan mengembangkan metode-metode praktis
bagi peramalan permintaan, sangat penting untuk memahami hakekat permintaan
jasa transportasi yang merupakan turunan dari permintaan lain. (Setijowarno
dan R.B.Frazila, 2001).
Angkutan memungkinkan orang dan
atau barang berpindah dari suatu tempat ke tempat lain. Bila kebutuhan akan
meningkat, ada kewajiban untuk memenuhi kebutuhan tersebut . Dan apabila
angkutan tidak disediakan, maka bebagai kebutuhan tersebut tidak akan dapat
dipenuhi sebagaimana semestinya. Jadi, pelayanan angkutan dalam banyak hal sama
pentingnya seperti listrik, air, gas dan lain-lain. (Warpani,
1990).
2.3 Biaya
Transportasi
Pengertian mengenai biaya transportasi dapat berbeda-beda tergantung
sudut pandang dari setiap golongan masyarakat yang mengamatinya. Pada umumnya
setiap golongan masyarakat hanya akan lebih tertarik pada biaya yang menjadi
bebanya misalnya seorang pengguna jasa angkutan umum, maka tarif yang dikenakan
dan waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan akan dipandang sebagai
biaya. (Morlok, 1978).
2.3.1 Pengertian Biaya Transportasi
Pengertian biaya transportasi secara rinci dapat dibedakan
berdasarkan sebagai sudut pandang
sebagai berikut:
1.
Pemakai
Sistem adalah orang
yang secara langsung menggunakan system tersebut, mereka memandang biaya
transportasi adalah harga yang dibayar langsung untuk menggunakan jasa
transport (ongkos), misalnya tarif angkutan dan tarif tol. Selain itu,
waktu yang digunakan perjalanan, ketidak-nyamanan penumpang selama perjalanan
dipandang sebagai biaya transportasi juga.
2.
Pemilik
Sistem / Operator
adalah kelompok yang memandang biaya transportasi sebagai biaya yang secara
langsung dikeluarkan untuk meningkatkan produksi jasa angkutan. Biaya yang
termasuk dalam hal ini seperti; biaya kontruksi, biaya operasi, biaya
perawatan, biaya administrasi dan sebagainya.
3.
Bukan
Pemakai adalah kelompok
yang memandang biaya transportasi sebagai pengorbanan karena terjadinya
perubahan nilai tanah yang digunakan untuk jaringan jalan, penurunan
produktivitas, dan penurunan kualitas lingkungan seprti kebisingan, polusi dan
penurunan tingkat estetika.
4.
Pemerintah adalah yang menanggung biaya transportasi dalam hal
subsidi dan sumbangan modal yang harus dikeluarkan untuk pembangunan sarana
transportasi, dan hilangnya pajak pendapatan
dari lokasi yang berubah fungsi.
5.
Daerah adalah yang memandang biaya transportasi sebagai
pengorbanan secara tidak langsung, yaitu melalui reoerganisasi tataguna lahan
dari lokasi yang berubah fungsi.
2.3.2 Komponen Biaya
Biaya Tetap (Fixed Cost) adalah biaya
yang besarnya tidak tergantung dari penggunaan kendaraan seperti : biaya
pemilikan kendaraan, biaya ijin usaha, depresiasi, pajak dan yang lain. Biaya
ini dapat dihindari dengan cara menjual kendaraan tersebut. (Daniels,
1974)
Biaya Tidak Tetap (Variable
Cost) adalah biaya yang besarnya akan berubah-ubah sesuai dengan
penggunaan kendaraan seperti : biaya pemakaian bahan bakar, ban, oli,
penggantian suku cadang dan yang sebagainya. Biaya ini dapat dihindari jika
kendaraan tersebut tidak dioperasikan.(Daniels, 1974)
2.3.3
Biaya Operasi Kendaraan
Biaya operasi kendaraan (BOK) adalah biaya yang
digunakan untuk pengoperasian kendaraan untuk memenuhi fungsinya. Biaya opersi
kendaraan akan selalu ada baik kendaraan itu dipakai atau tidak, sehingga
setiap hari operator selalu mengeluarkan biaya operasional. Untuk itu biaya
operasi kendaraan harus dianalisis dari waktu ke waktu. Hal tersebut secara
tidak langsung bertujuan untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi
akibat dari perubahan faktor –faktor yang mempengaruhi besarnya biaya operasi
kendaraan, yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Hal itu
disampaikan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat ITB, Bandung (1997).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan biaya operasi kendaraan
adalah:
1.
Tipe
dan umur kendaraan
Tipe
kendaraan akan berpengaruh pada pemakaian minyak pelumas, bahan bakar dan suku
cadang. Sedangkan umur kendaraan juga mempengaruhi, karena itu kendaraan yang
sudah tua akan sering rusak dan akan menambah biaya perawatan.
2.
Kecepatan
kendaraan
Kecepatan
kendaraan berpengaruh pada kebutuhan bahan bakar, minyak
pelumas, dan keausan.
3.
Kelandaian
Kemiringan
jalan untuk menanjak dan menurun juga berpengaruh pada pemakaian bahan bakar.
4.
Jumlah
tikungan
Untuk
mengikuti suatu tikungan, kendaraan akan mengurangi kecepatan dan mengambil
tikungan untuk melaju kembali. Kondisi ini akan menggunakan bahan bakar dan
minyak pelumas lebih banyak sekaligus mempercepat keausan.
2.4 Tarif Angkutan Kota
Tentang masalah tarif,
struktur, dan golongan tarif standar angkutan kota dan kendaraan umum,
ditetapkan oleh pemerintah. Menurut Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat
ITB, Bandung (1997), Di dalam menangani kebijakan tarif, tujuan apapun
yang dibuat, pada akhirnya akan diambil keputusan yang mempertimbangkan 2 (dua)
hal : pertama, tingkatan tarif merupakan besarnya tarif yang dikenakan dan
mempunyai rentang dari tarif bebas / gratis sama sekali sampai pada tingkatan
tarif yang dikenakan akan menghasilkan keuntungan pada pelayanan, kedua,
mempertimbangkan struktur tarif yang merupakan cara bagaimana tarif tersebut
dibayarkan. Beberapa pilihan cara bagaiman tarif tersebut
dibayarkan yaitu :
1
Tarif
Seragam (Uniform Fare), yaitu tarif yang dikenakan tanpa memperhatikan
jarak yang dilalui ( jauh dekat sama).
2
Tarif
berdasarkan jarak (Distance – Based Fare), yaitu sejumlah tarif
dibedakan secara mendasar oleh jarak yang ditempuh.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam
menentukan besar dan struktur tarif
adalah besarnya biaya operasi kendaraan yang digunakan sebagai alat
angkut. Hal ini harus diperhatikan karena keuntungan yang diperoleh
operator sangat tergantung pada besarnya
tarif yang ditetapkan dan biaya operasi yang dikeluarkan.
Di kota Semarang dalam
menentukan besarnya tarif berdasarkan SK Menteri Perhubungan yang kemudian
dimusyawarahkan pada DPRD Tingkat 1 Jawa Tengah, dan akhirnya dibuat SK
Gubernur Jawa Tengah untuk direalisasikan di lapangan.
2.5 Kinerja Operasi Kendaraan
Untukmelakukan penilaian terhadap pengoperasian kinerja kendaraan
umumdiperlukan data tentang penumpang dan data tentang hal-hal yang berpengaruh
pada operasi kendaraan, seperti kondisi lalu lintas, rute yang dilalui, panjang
lintasan dan sebagainya. Dalam menghitung dan mengukur kinerja operasi dari
kendaraan angkutan umum yang diamati, digunakan rumus sebagai berikut ini :
2.5.1 Menghitung Jumlah Penumpang Kendaraan Per
Hari
Sebelum menghitung jumlah penumpang kendaraan per hari terlebih dahulu
dihitung jumlah penumpang kendaraan per Km, yaitu dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
P Km =
…………………………………………..
(2.1)
Dimana : P Km =
jumlah penumpang per Km (orang)
P = jumlah penumpang yang diangkut
per hari
(orang)
J = jarak
tempuh per hari (Km)
Untuk
memperoleh jumlah penumpang kendaraan per hari dihitung dengan rumus berikut
ini :
P = Prt x R
………………………………………… (2.2)
Dimana : Prt =
jumlah penumpang rata-rata per rit (orang)
R = jumlah rit yang dihasilkan per hari
Untuk
mendapatkan jumlah penumpang kendaraan per jam dihitung :
P j =
………………………………………… (2.3)
Dimana : P j =
jumlah penumpang per jam (orang)
P = jumlah penumpang yang diangkut per hari
(orang)
Jop = jam
operasi per hari (jam)
2.5.2 Perhitungan Faktor Pembebanan Penumpang (load
Factor)
Untuk memperoleh faktor
pembebanan penumpang, yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
LF=
x 100% ……………………(2.4)
Dimana : LF =
Faktor muatan / load factor (%)
Untuk
memperoleh jumlah penumpang - Km per hari dihitung dengan rumus:
P-km=
…........................…………………(2.5)
Dimana : P-km =
jumlah penumpang kendaraan – km per hari
Jti = jarak tempuh ke i
Jpi = jumlah
penumpang untuk setiap jarak tempuh ke i
Untuk
memperoleh kursi- km per hari dihitung dengan rumus berikut ini :
Krs-km = Jkrs x Km xR ..………………………… (2.6)
Dimana : Krs-km =
kursi km- per hari
Km = jarak tempuh Km
per rit
JKrs = jumlah kursi
per rit
R = jumlah rit
yang dihasilkan per hari
2.5.3 Faktor Pembebanan Saat Titik Impas (BEP)
Titik impas adalah keadaan dimana biaya yang dikeluarkan sama dengan
pendapatan yang diterima (keuntungan = 0). Dalam hal
ini dapat dikatakan bahwa pendapatan merupakan hasil kali antara faktor
pembebanan dengan tarif, untuk itu jika factor pembebanan yang dihasilkan pada
saat penelitian disebut LFp, sedang pendapatan pada saat penelitian disebut Pp,
maka dapat ditulis persamaan sebagai berikut:
LFp
x Tarif = Pp sehingga Tarif = Pp / LFp ………………..(2.7)
Rumus
persamaan tersebut diatas berasumsi bahwa jumlah penumpang adalah tetap dan
penumpang terbagi rata pada semua kendaraan yang beroperasi. Dengan demikian
jika jumlah kendaraan yang beroperasi berbeda, maka jumlah penumpang yang
terangkut tiap kendaraan akan berubah, sehingga jumlah kendaraan yang harus
tersediakan dapat ditentukan sebagai berikut:
KT = (LFp /
LFx) x
KO …………………………...............(2.8)
Dimana:
KT = Jumlah
kendaraan yang harus disediakan
LFp= Faktor
pembebanan pada saat dilakukan pengamatan
LFx= Faktor pembebanan penumpang pada saat titik
impas, yaitu
faktor pembebanan
pada saat penerimaan sama dengan biaya.
KO = Jumlah kendaraan sejenis yang beroperasi.
2.5.4 Pendapatan Rata-rata per Hari
Sebelum menghitung pendapatan rata-rata per hari perlu dihitung dahulu
jumlah pendapatan rata-rata per km yang diterima oleh pengelola angkutan, yaitu
dengan menggunakan rumus sebagai berikut ini:
Pdpt-Km
=
…………...……..…………...............(2.9)
Dimana : Pdpt- Km = pendapatan per Km yang diterima pengusaha
P = jumlah
penumpang yang diangkut per hari
(orang)
Trt = tarif rata-rata yang dibayarkan tiap
penumpang
(Rp)
J
= jarak tempuh per hari (km)
Untuk
memperoleh tarif rata-rata yang dibayar oleh penumpang, yaitu dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Trt=
…………....(2.10)
Dimana : Trt
= rata-rata tarif yang dibayarkan penumpang per hari
Trf1, trf2, rf3,…, trfn = n tarif yang berbeda
a, b, c,…, =
jumlah penumpang
untuk tiap macam tarif.
Untuk
memperoleh jumlah penumpang yang diangkut perhari digunakan rumus berikut ini :
Pnp-hari= (Pnp Total) / (Jumlah hari
pengamatan) ………..(2.11)
Sehingga
jumlah pendapatab rata-rata per hari yang diterima operator adalah sebagai
berikut:
Pdpt-Hr= J * Pdpt-Km.........................…….......…..(2.12)
Dimana : Pdpt- Hr
= pendapatan rata-rata per
hari (Rp)
J = jarak tempuh rata-rata per hari (km)
Pdpt-
Km = pendapatan rata-rata per Km (Rp)
2.6 Kelayakan pengoperasian Kendaraan angkutan
Umum
Kriteria kaelayakan operasi sangat erat kaitanya dengan tingkat
keberhasilan suatu operasi, dan jika dipandang dari beberapa sudut pandang dan
kepentingan, akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda.
Misalnya masyarakat memandang keberhasilan suatu sistem transportasi angkutan
umumdari sudut berapa jauh system transportasi yang murah, nyaman, cepat, dan
lancar. Bagi pemilik kendaraan atau pengusaha, titik berat keberhasilan akan
diletakan pada aspek finansial dan ekonomi. Sedangkan pemerintah mempunyai
kriteria yang lebih luas lagi, seperti pertumbuhan ekonomi masyarakat dan
tingkat kesejahteraan.
2.6.1 Kelayakan Finansial
Dalam proses mengkaji kelayakan investasi dari aspek
fonansial, pendekatan yang biaya dipakai adalah dengan menganalisis perkiraan
aliran kas keluar dan masuk selama umur ekonomi. Aliran kas terbentuk dari
perkiraan biaya pertama, modal kerja, biaya operasi dan besarnya pendapatan.
Sistematika analisa aspek finansial di atas mengikuti urutan sebagai berikut :
A. Aliran
Kas (Cash Flow)
Keadaan finansial
ekonomi suatu perusahaan dapat dilihat dari berbagai laporan di perusahaan,
diantaranya adalah laporan rugi laba, daftar neraca dan aliran kas. Laporan kas
tersebut dapat memberikan gambaaran mengenai jumlah dana yang tersedia setiap
saat yang dapat dipakai unutk berbagai kebutuhan pengoperasian perusahaan,
termasuk misalanya inverstasi. Selain itu laporan aliran kas memuat jumlah
pemasukan dan pengeluaran yang disusun dengan menelusuri dan mengkaji laporan
rugi laba dan lembaran nerana. Untuk mempermudah analisis, aliran kas
dikelompokan menjadi tiga :
1. Aliran
kas awal (Initial Cahs Flow)
2. Aliran
kas operasi (Operational Cahs Flow)
3. Aliran
kas terminal (Terminal Cahs Flow)
A.1 Aliran Kas Awal (Initial Cash Flow)
Untuk
menentukan aliran kas awal ini, maka pola aliran kas yang berhubungan dengan
pengeluaran inestasi harus diidentifikasikan. Hal ini berarti kita harus
mengetahui bagaimana mengalokasiakan pembayaran untuk pembelian kendaraan,
pembangunan garasi (pool) dan
perlengkapannya seperti : keamanan, pengurusan ijin usaha, ijin trayek, seleksi
pengemudi dan sebagainya. Waktu yangdigunakan untuk tahap persiapan inin
berkisar antara 1-2 bulan lamanya.
A.2 Aliran kas
operasi (Operational Cahs Flow)
Penentuan
atau estimasi tentang berapa besarnya aliran kas operasional tiap tahunnya,
merupakan titik permulaan untuk menilai keuntungan (profitabilitas)
usulan investasi tersebut. Kebanyakan cara yang dipergunakan untuk menaksir aliran
kas operasi setiap tahunnya adalah dengan “menyesuaikan” taksiran laba/rugi
yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip akutansi dan menambahkannya dengan
biaya-biayayang sifatnya bukan tunai misalnya depresiasi. Karena itu dalam
prakteknya sering dijumpai cara menaksir aliran kas operasional ini dengan
menggunakan rumus : laba setelah pajak+depresiasi.
A.3 Aliran kas terminal (Terminal Cahs Flow)
Aliran kas
terminal umumnya terdiri dari aliran kas sisa (residu) dari investasi
tersebut dan pengambilan modal kerjanya. Beberapa investasi masih mempunyai nilai sisa meskipun
aktiva-aktiva tetapnya sudah tidak mempunyai nilai ekonominya lagi. Aliran kas
dari nilai sisa ini perlu dihubungkan dengan pajak yang mungkin masih
dikenakan.
Sebagaimana
pada usia ekonomi, maka penaksiran nilai sisa dari suatu investasi cukup sulit,
masalahnya dimensi waktu yang dihadapi dalam penaksiran cukup lama. Misalnya
nilai ekonominya ditaksir 5 tahun, maka untuk meaksir beberapa nilai sisa suatu aktiva tetap cukup sulit.
Hal ini berarti kita memproyeksikan pada 5 tahun mendatang yang masih
dipengaruhi oleh banyak faktor ketidak-pastian.
B. Laporan
Rugi-Laba (Income Statement)
Laporan rugi-laba
meruapakan cara unutk melihat tingkat keuntungan (Profitabilitas) suatu usaha.
Jadi dari laporan rugi-laba ini dapat dilihat berapa besar keuntungan atau
kerugian yang dialami oleh suatu perusahaan pada kurun waktu tertentu,
misalnaya : per tahun, per kuartal atau waktu yang lain.
C. Lembaran
Neraca
Laporan keuangan yang
berbentuk lembaran neraca menunjukan posisi keuangan suatu oerusahaan pada
waktu tertentu, dijabarkan beberapa aset dan kewajiban membayar pada saat awal
sampai akhir tahun tutup buku. Rumus
dasar lembaran Neraca adalah :
Aktiva= Pasiva+Ekuitas
Pasiva (liabilitas)
terdiri dari jangka pendek dan jangka panjang, wujudnya bisa berupa kredit
usaha, kredit bank dan lain-lain. Sedangkan aktiva terdiri dari aktiva lancar
dan aktiva tetap. Akitva lancar adalah aset yang berupa uang tunai (cash)
atau aset lain yang mempunyai sifat mudah dikonversikan menjadi uang tunai,
seperti uang dalam rekening bank (bank account), piutang (acoaunt
receivable), yang dapat dituangkan dalam waktu dekat atau juga pinjaman (loan)
dan persediaan (inventori). Aktiva tetap dapat berupa tanah, bahan
bangunan, peralatan kantor, dan lain-lain yang tidak mudah di uangkan dalam
waktu singkat. Sedangkan ekuitas adalah kekayaan yang masih tertahan, seperti
saham atau surat-surat berharga lainnya.
D. Titik
Impas (Break Even poin-BEP)
Titik impas (break event
point) adalah titik dimana total biaya operasional sama dengan pendapatan.
Titik impas memberikan petunjuk bahwa tingkat operasional telah menghasilkan
pendapatanyang sama besarnya dengan biaya operasi yang dikeluarkan. Pada gambar
dibawah ini, titk tersebut ditunjukan dengan huruf I. Sumbu vertikal menunjukan
jumlah pendapatan yang dinyatakan dalam rupiah, sedang sumbu horizontal
menunjukan jumlah operasinal yang dinyatakan dalam km atau hari.
Gambar
2.3 Hubungan antara jumlah Rit, Total
biaya dan Titik Impas
Untuk menentukan titik
impas (BEP) daari suatu kegiatan usaha dapat dicapai dari kondisi sebagai
berikut :
Pendatan = biaya
operasional
= biaya tetap + biaya variabel
Sedangkan untuk mencari
besarnya laba atau rugi yang didapat adalah sebagai berikut:
Laba/rugi = total pendapatan -
total pengeluaran
2.6.2
Indikator Kelayakan Investasi
Untuk mengetahui
kelayakan suatu investasi yang akan ditanamkan, perlu diadakan tahapan
pengujian investasi dengan maksud mencari tingkat keberhasilan investasi yang
ditinjau dari segi ekonomi dan finansial. Setelah mengetahui hasil pengujian
investasi diatas, maka dalam menanggapi penanaman modal dalam suatu usaha dapat
diramalkan kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul seperti : kapan akan
mendapatkan saat pulang (BEP), dengan tingkat bunga dan laju inflasi berapa
investasi akan untung dan lain-lain selama waktu tertentu, misalnya : per tahun
atau per kuartal.
Pada umumnya ada 5
(lima) meetode yang biasa dipergunakan untuk penilaian investasi, metode-metode
tersebut adalah :
1
Metode “Average Rate Of Return”
2
Metode “Payback”
3
Metode “Net Present Value”
4
Metode “Internal Rate Of Return”
5
Metode “Profitability Index”
A. Metode
“Average Rate Of Return”
Metode ini mengukur
berapa tingkat keuntungan rata-rata yang diperoleh dari suatu investasi. Angka
yang dipergunakan adalah laba setelah pajak dibandingkan dengan total atau average
invesment. Hasil yang diperoleh dinyatakan dalam prosentase. Angka ini
kemudian diperbandingkan dengan tingkat keuntungan yang disyaratkan, maka
investasi dikatakan menguntungkan (layak), dan apabila lebih kecil dari pada
tingkat keuntungan yang disyaratkan, investasi ditolak (tidak layak).
Metode ini sangat
sederhana sehingga mudah dalam penggunaannya, tetapi mempunyai beberapa antara
lain :
1
Tidak memasukkan nilai waktu uang.
2
Digunakan konsep laba menurut akuntansi
dan bukan aliran kas.
B. Metode”Payback”
Metode ini mencoba
mengukur seberapa cepat investasi bisa kembali, ssehingga satuan adalah waktu
(bulan, tahun, dan sebagainya). Kalau periode Payback ini lebih pendek dari
pada yang disyaratkan, maka investasi dikatakan layak atau menguntungkan dan
sebaliknya.
Metode ini mengukur
seberapa cepat suatu investasi bisa kembali, maka dasar yang dipergunakan adlah
aliran kas, bukan laba. Untuk itu kita hitung dulu aliran kas dari investasi
tersebut. Problem utama dari metode ini adalah sulitnya menentukan periode
payback maksimum yang disyaratkan, untuk digunakan sebagai angka pembanding.
Secara normatif, memang tidak ada pedoman yang bisa dipakai untuk menentukan
payback maksimumnya, dalam prakteknya yang dipergunakan adalah pembayaran
kembali (payback) dari perusahaan-perusahaan yang sejenis.
Kelemahan-kelemahan lain dari metode
inni adalah :
1
Diabaikannya nilai waktu uang
2
Diabaikannya aliran kas setelah periode
payback
Untuk mengatasi
kelemahan pertama, ada yang menggunakan discounted payback, dimana aliran kas
opresional tersebut dan juga terminal cash flow di-discounted-kan dengan
tingkat bunga yang di anggap relevan.
C. Metode
“Net Present Value”
Metode ini menghitung
selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai nilai sekarang
penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) dimasa
yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan terlebih
dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Ada beberapa konsep untuk
menghitung tingkat bunga yang dianggap relevan, pada dasarnya tingkat bunga
tersebut adalah tingkat bunga pada saat kita menganggap keputusan investasi
masih terpisah dari keputusan pembelanjaan atau waktu kita mengkaitkan kepusan
investasi dengan keputusan pembelanjaan. Perlu diperhatikan adnya keterkaitan
tersebut hanya akan mempengaruhi tingkat bunga dan bukan aliran kas. Apabila
nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih dimassa yang akan datang lebih
besar dari pada nilai sekarang investasi, maka investasi ini dikatakan
menguntungkan (diterima). Sedangkan apabila lebih kecil (NPV negatif), maka
investasi dinyatakan ditolak.
Rumus yang dipakai adalah sebagai
berikut :
NPV =
-
..................................
(2.13)
Dimana :
NPV = nilai sekarang
neto
(C)t = aliran kas masuk tahun-t
(Co)t = aliran kas
keluar tahun ke-t
n = umur unit hasil investasi
i = arus pengembalian (rate of return)
t = waktu
Indikasi :
NPV = positif, kelayakan investasi dapat
diterima, makin tinggi
angka NPV makin
baik
NPV = negatif, tidak
layak investasi yang akan ditanamkan
NPV = nol (0) berarti
netral.
D.
Metode “internal rate of
return-IRR”
Metode ini menghitung
tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang. Apabila tingkat bunga
ini lebih besar dari pada tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang disyaratkan),
maka investasi dikatakan menguntungkan, dan sebaliknya kalau lebih kecil
dikatakan merugi. Dalam penghitungan IRR ini perlu dilakukan trial and error
(terutama kala di aliran kasnya tidak sama dari tahun ke tahun) dan perlu
dilakukan interpolasi.
Unutk menggunakan
metode IRR ditentukan dulu nilai NPV=0,
kemidian dicari berapa besar arus pengembalian (discontrol) (i) agar hal
tersebut terjadi. Rumus yang dipakai adalah sebagai sebagai berikut :
Dimana :
(C)t =
aliran kas masuk pada tahun t
(Co)t = aliran kas keluar pada tahun t
i =
arus pengembalian (discontrol)
n = tahun
karena aliran kas keluar umumnya merupakan
biaya pertama (Cf) maka persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi :
Indikasi :
1
IRR > arus pengenbalian (i) yang
diinginkan (requiredrate of return-IRR), maka rencana investasi diterima
2
IRR < arus pengenbalian (i) yang
diinginkan (requiredrate of return-IRR), maka rencana investasi ditolak.
E. Metode
“Profitability Index”
Metode ini menghitung
perbandingan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa
datang dengan nilai sekarang investasi. Kalau Prifitability Index (PI) –nya
lebih besar dari 1 (satu), maka invaestasi dikatakan menguntungkan (diterima),
tetapi kalau kurang dikatakan tidak menguntungkan (ditolak). Sebagaimana metode
NPV, maka metode ini perlu menentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang akan
dipergunakan.
Dari kelima metode
tersebut di atas (average rate of return, payback, NPV, IRR, dan PI) bisa
disimpulkan bahwa metode yang sesuai dengan topik penelitian ini adalah metode
NPV yang dikoreksidengan menggunakan metode IRR. Karena dalam penelitian ini
memasukkan faktor nilai waktu dari uang, mempertimbangkan semua aliran kas dan
lebih akuratnya seharusnya faktor inflasi perlu dimasukkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar