alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Selasa, 22 Oktober 2013

Pengelompokan Agregat

Definisi Agregat
            Kata agregat dapat dijabarkan dari bentuk bahasa latin grex yang berarti sekumpulan atau sekawanan. Berpijak dari akar kata ini, kita kemudian mendapatkan beberapa makna dari aggregate .
Mulanya kata ini menyeruak terutama dalam bidang konstruksi di lingkungan penutur bahasa inggris mengacu pada bahan-bahan mineral tidak bergerak,misalnya pasir, debu, batu, kerikil, pecahan batu yang bercampur semen, kapur, atau bahan aspal untuk mengikat campuran itu menjadi seperti beton. Ketika kita menghimpun benda atau sesuatu yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan, kita seakan menyusun sebuah gundukan atau tumpukan, di mana ujung tumpukan berasosiasi dengan pencapaian. Proses pengumpulan inilah yang disebut agregat.
            Definisi agregat menurut Ir. Irlizar, MT adalah suatu bahan keras dan kaku yang digunakan sebagai bahan campuran, yang berupa berbagai jenis butiran atau pecahan tang termasuk di dalamnya antara lain : pasir, kerikil, agregat pecah, terak dapur tinggi, abu/debu agregat.
            Tujuan digunakannya agregat dalam campuran beton yaitu sebagai berikut:
  1. Menghemat penggunaan semen Portland.
  2. Menghasilkan kekuatan besar pada beton.
  3. Mengurangi penyusutan pada perkerasan beton.
  4. Dengan gradasi agregat yang baik dapat tercapai beton padat.
  5. Sifat dapat dikerjakan (workability) dapat diperiksa pada adukan beton dengan gradasi yang baik.
Pengaruh Sifat Agregat Terhadap Sifat Beton
Sifat Agregat
Pengaruh Pada
Sifat Beton
Bentuk,tekstur,gradasi
Beton cair
Kelecakan, pengikatan dan pengerasan
Sifat fisik,sifat kimia, mineral
Beton keras
Kekuatan, kekerasan dan ketahanan (durability)



Komponen yang merugikan agregat
            Bahan-bahan yang mengganggu berlangsungnya pengikatan serta pengerasan beton. Komponen-komponen yang reaktif dan merusak dari agregat alami yang biasa dijumpai di Indonesia ialah bahan-bahan;
  1. silica
  2. sulfide
  3. lempung dan mika
  4. kotoran organic dan garam

Klasifikasi agregat
  • Jenis-jenis agregat berdasarkan berat
Ada tiga jenis agreagat berdasarkan beratnya, yaitu agregat normal, agregat ringan dan agregat berat. Peraturan beton 1989 mencakup agregat normal dan agregat ringan.
a. Agregat normal
Dihasilkan dari pemecahan batuan dengan quarry atau langsung dari sumber alam. Agregat ini biasanya berasal dari granit, basalt, kuarsa dan sebagainya. Berat jenis rata-ratanya adalah 2.5 – 2.7 atau tidak boleh kurang dari 1.2 kg/dm3. Beton yang dibuat dengan agregat normal adalah beton normal, yaitu beton yang dibuat dengan isi 2.200 - 2.500 kg/m3 (SK. SNI.T-15-1990:1). Kekuatan tekannya sekitar 15-40 Mpa. Ketentuan dan persyaratan dari SII.0052-80 “Mutu Dan Cara Uji Agregat Beton” harus dipenuhi. Bila tidak tercakup dalam SII.0052-80, maka agregat harus memenuhi ketentuan ASTM C-33, “ Specification For Concrete Aggregates”(PB-89, 1989:9).
b. Agregat ringan
Digunakan untuk menghasilkan beton yang ringan dalam sebuah bangunan yang memperhitungkan berat dirinya. Agregat ringan digunakan dalam bermacam produk beton, misalnya bahan-bahan untuk isolasi atau lahan untuk pra-tekan. Agregat ini paling banyak digunakan untuk beton-beton pra-cetak. Beton yang dibuat dengan agregat ringan mempunyai sifat tahan api yang baik. Kelemahannya adalah ukuran pori pada beton yang dibuaat dengan agrergat ini besar, sehingga penyerapannya besar pula. Jika tidak diperhatikan hal ini akan menyebabkan beton yang dihasilkan menjadi kurang baik kualitasnya. Agregat ringan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang dihasilkan melalui pembekahan (expanding) dan yang dihasilkan dari pengolahan bahan alam. Disarankan agar penakarannya menggunakan volume. Berat isi agregat ini berkisar 350-880 kg/m3 untuk agregat kasarnya dan 750-1200 kg/m3 untuk agregat halusnya. Campuran kedua agregat tersebut mempunyai berat isi maksimum 1040 kg/m3. Agregat ringan yang digunkan dalam campuran beton harus memenuhi syarat mutu dari ASTM C-330, ”Specification For Lighweight Agragates For Structural Concrete”.
c. Agregat berat
Agregat berat mempunyai berat jenis lebih besar dari 2.800 kg/m3. Contohnya adalah magnetic (fe304), barites (BaSO4), dan serbuk besi. Berat jenis beton yang dihasilkan dapat mencapai 5 kali berat jenis bahannya. Beton yang dibuat dengan agragat ini biasanya digunakan sebagai pelindung dari radiasi sinar-X dan neutron.
·         Agregat berdasarkan bentuk
Pada konstruksi perkerasan bentuk agregat berpengaruh terhadap:
-          Pengerjaan saat pencampuran
-          Merubah kemampuan pemadatan dalam mencapai kepadatan, mempengaruhi terhadap kekuatan perkerasan aspal.
-          Pertimbangan di lapangan untuk sub base, bentuk bulat masih dapat digunakan sampai 40% dengan minimal mempunyai satu bidang pecahan, untuk surface 100 % terdiri dari kubus.
Bentuk-bentuk agregat yaitu sebagai berikut :
a. Agregat Bulat
Agregat ini terbentuk akibat pengikisan oleh air atau keseluruhannya terbentuk karena pergeseran, memiliki rongga udaranya minimum 33%, sehingga rasio luas permukaannya kecil. Kualitas mutu beton apabila menggunakan agregat bentuk bulat ini kurang cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan atau untuk beton dengan mutu tinggi. Hal ini disebabkan karena ikatan yang timbul antar agregat kurang kuat.


b. Agregat Bulat Sebagian atau Tidak Teratur
Agregat berbentuk tidak teratur secara alamiah. Sebagian agregat ini terbentuk karena pergeseran sehingga permukaan atau sudut-sudutnya berbentuk bulat. Agregat ini memiliki rongga udara lebih tinggi, sekitar 35%-38%, sehingga membutuhkan lebih banyak pasta semen pada saat pelaksaan. Hal ini dilakukan agar pekerjaan menjadi mudah. Kualitas beton yang dihasilkan dari agregat ini belum cukup baik apabila digunakan untuk struktur yang menekankan pada kekuatan atau untuk beton mutu tinggi hal ini disebabkan karena ikatan yang timbul antar agregat belum cukup baik  atau masih kurang kuat.
c. Agregat Bersudut
Agregat ini memiliki sudut-sudut yang terlihat jelas. Sudut-sudutnya terbentuk ditempat-tempat perpotongan bidang-bidang dengan permukaan kasar. Agregat ini memiliki rongga udara sekitar antara 38%- 40%, sehingga membutuhkan lebih banyak lagi pasta semen saat pelaksanaan. Hal ini dilakukan agar saat pengerjaannya menjadi mudah. Kualitas beton yang dihasilkan dari agregat ini cocok untuk struktur yang menekankan pada kekuatan atau untuk beton mutu tinggi. Hal ini disebabkan karena ikatan yang timbul antar agregatnya baik atau kuat. Agregat ini dapat juga digunakan untuk bahan lapis perkerasan (rigid pavement).
d. Agregat Panjang
Agregat ini memiliki panjang lebih besar dari lebarnya dan lebarnya lebih besar dari tebalnya. Agregat disebut panjang apabila ukuran terbesarnya lebih dari 9/5 ukuran rata-rata. Yang dimaksud dengan ukuran rata-rata yakni adalah ukuran ayakan yang meloloskan dan menahan butiran agregat. Agregat jenis ini akan berpengaruh buruk terhadap kualitas mutu beton yang akan dibuat. Hal ini disebabkan karena agregat jenis ini cenderung berada dirata-rata air sehingga akan terdapat rongga dibawahnya dan kekuatan tekan dari beton yang menggunakan agregat ini buruk.
Contoh :
Agregat dengan ukuran rata-rata 15 mm, akan lolos saringan 19mm dan tertahan oleh saringan 10mm. Agregat ini dinamakan panjang jika ukuran terkecil butirannya lebih kecil dari 27 mm (9/5 x 15mm).

e. Agregat Pipih
Agregat disebut pipih apabila perbandingan antara tebal agregat terhadap ukuran- ukuran lebar dan tebalnya lebih kecil. Agregat pipih sama dengan agregat panjang jika digunakan untuk campuran beton dengan kuatas mutu tinggi hasilnya tidak baik. Agregat ini dinamakan pipih jika ukuran terkecilnya kurang dari 3/5 ukuran rata- ratanya. Menurut Rico dkk mengutip Galloway; 1994, agregat pipih mempunyai perbandingan antara panjang dan lebar dengan ketebalan dengan rasio 1:3 yang dapat digambarkan sama dengan uang logam.
f. Agregat Pipih dan Panjang
Agregat jenis ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar dibandingkan lebarnya, sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari tebalnya.
·         Agregat berdasarkan tekstur permukaan
Agregat berdasarkan tekstur permukaan selain memberikan sifat ketahanan gelincir (skid resistance) pada permukaan perkerasan, tekstur permukaan agregat baik makro maupun mikro juga mempengaruhi factor kekuatan, workabilitas dan durabilitas campuran beton. Sebagai contoh permukaan agregat yang kasar akan memberikan kekuatan pada campuran beton karena kekasaran permukaan agregat dapat menahan agregat itu sendiri dari pergeseran atau pergerakan. Agregat dengan permukaan yang kasar ini dapat menahan tahan gesek yang kuat sehingga beton tersebut dapat dikatakan aman.
a. Agregat halus/licin
Agregat ini berasal dari pengikisan yang disebabkan oleh air atau dari patahan batuan yang berbutir halus / yang berlapis-lapis. Agregat ini membutuhkan sedikit air daripada agregat dengan permukaan kasar. Kualitas beton yang menggunakan agregat halus cenderung kekuatannya lebih rendah. Hal ini disebabkan pengaruh dari gaya gesek yang ditimbulkan oleh agregat.
b. Agregat granular
Pecahan batuan yang berbentuk bulat dan seragam.



c. Agregat kasar
Pecahan kasar dapat terdiri dari batuan berbutir halu atau kasar yang mengandung bahan-bahan berkristal yang tidak dapat terlihat dengan jelas melalui pemeriksaan visual.
d. Crystalline
Agregat jenis ini mengandung Kristal-kristal yang nampak dengan jelas melalui pemeriksaan visual.
e. Sarang lebah
Tampak dengan jelas pori-porinya dan rongga-rongganya. Melalui peeriksaan visual, kita dapat melihat lubang-lubang pada batuannya.
·         Agregat berdasarkan gradasi
Gradasi agregat adalah distribusi ukuran butiran agregat. Dapat juga disebut pengelompokkan agregat dengan ukuran yang berbeda sebagai persentase dari total agregat atau persentase kumulatif butiran yang lebih kecil atau lebih besar dari masing-masing seri bukan saringan. Gradasi agregat juga berguna untuk menentukan proporsi agregat halus terhadap total agregat. Gradasi agregat akan mempengaruhi luas permukaan agregat yang sekaligus akan mempengaruhi jumlah pasta/air yang lebih sedikit karena luas permukaan lebih kecil. Apabila ditinjau dari volume pori (ruang kosong) antara agregat maka butir yang bervariasi akan mengakibatkan volume pori lebih kecil dengan kata lain kemampatan menjadi tinggi. Hal ini berbeda dengan ukuran agregat yang seragam yang akan mempunyai volume ruang kosong yang lebih besar.
Macam-macam agregat berdasarkan gradasi:
a.       Gradasi sela
Jika salah satu atau lebih dari ukuran butir atau fraksi pada satu set ayakan tidak ada, maka gradasi ini akan menunjukkan satu garis horizontal dalam grafiknya. Keistimewaan dari gradasi ini antara lain :
 1. Pada nilai faktor air semen tertentu, kemudahan pengerjaan akan lebih tinggi bila kandungan pasir lebih sedikit.
2. Pada kondisi kelecakan yang tinggi, lebih cenderung mengalami segregasi, oleh karena itu gradasi sela disarankan dipakai pada tingkat kemudahan pengerjaan yang rendah, yang pemadatannya menggunakan penggetaran (vibration).
3. Gradasi ini tidak berpengaruh buruk pada kekuatan beton.
b. Gradasi menerus
Didefinisikan jika agregat yang semua ukuran butirnya ada dan terdistribusi dengan baik. Agregat ini lebih sering dipakai dalam campuran beton. Untuk mendapatkan angka pori yang kecil dan kemampatan yang tinggi sehingga terjadiinterlocking yang baik, campuran beton membutuhkan variasi ukuran butir agregat. Dibandingkan dengan gradasi sela atau seragam, gradas menerus adalah yang paling baik.
c. Gradasi seragam
Agregat yang mempunyai ukuran yang sama didefinisikan sebagai agregat seragam. Agregat ini terdiri dari batas yang sempit dari ukuranfraksi, agregat dengan gradasi ini biasanya dipakai unutk beton ringan yaitu jenis beton tanpa pasirv(nir-pasir), atau untuk mengisi agregat dengan gradasi sela, atau untuk campuran agregat yang kurang baik atau tidak memenuhi syarat.
 Gradasi Seragam
Gradasi Baik
Gradasi Jelek
Kontak antar butir baik
Kontak antar butir baik
Kontak antar butir jelek
Kepadatan bervariasi tergantung dengan segregasi yang terjadi.
Seragam dan kepadatan tinggi.
Seragam tapi kepadatan jelek.
Stabilitas dalam keadaan terbatasi ( confined ) tinggi.
Stabilitas tinggi
Stabilitas sedang
Stabilitas dalam keadaan lepas rendah
Kuat menahan deformasi
Stablitas sangat rendah dalam keadaan basah
Sukar untuk dipadatkan
Sukar sampai sedang usaha untuk memadatkan
Mudah untuk dipadatkan
Mudah diresapi air
Tingkat permeabilitas tinggi
Tingkat permeabilitas rendah
Tidak dipengaruhi kadar air
Pengaruh variasi kadar air cukup
Kurang dipengaruhi oleh bervariasinya kadar air

·         Agregat buatan
Agregat dapat terjadi karena alam tetapi ada juga yang dibuat oleh manusia yaitu:
v  Terak dapur tinggi yaitu agregat ringan dan tahan terhadap cuaca, biasanya digunakan sebagai penutup geladak jembatan dan atap atau dapat juga sebagai tulangan perkerasan aspal.
v  Hasil pembakaran tanah liat, diantaranya batu batu/klinker yang dapat juga digunakan sebagai tulangan perkerasan jalan.
·         Agregat berdasarkan butir nominal
  1. Agregat halus : agregat yang semua butirnya menembus ayakan berlubang 4,8mm (SII.0052,1980) atau 4,75 (ASTM C33,1982) atau 5.0mm (BS.812,1976). Agregat halus dapat digolongkan menjadi tiga jenis:
    - Pasir Galian: Pasir galian dapat diperoleh langsung dari permukaan anah, atau dengan cara menggali dari dalam tanah. Pasir ini pada umumnya tajam, bersudut, berpori, dan bebas dari kandungan garam yang membahayakan. Namun karena pasir ini diperoleh dengan cara menggali maka pasir ini sring bercampur dengan kotoran atau tanah, sehingga sering harus dicuci terlebiha dulu sebelum digunakan.
    - Pasir Sungai : Pasir sungai diperoleh langsunga dari dasar sungai . pasir sungai pada umumnya berbutir halus dan berbentuk bulat, karena akibat proses gesekan yang terjadi. Karena butirannya halus, maka baik untuk plesteran tembok. Namun karena bentuk yang bulat itu, daya lekat antarbutir menjadi agak kurang baik.
    -Pasir laut : Pasir laut adalah pasir yang diambil dari pantai. Bentuk butirannya halus dan bulat, karena proses gesekan. Pasir jenis ini banyak mengandung saram, oleh karena itu kurang baik untuk bahan bangunan. Garam yang ada dalam pasir ini menyerap kandungan air dari udara, sehingga mengakibatkan pasir selalu agak basah, dan juga menyebabkan penembangan setelah bangunan selesai dibangun. Oleh karena itu, sebaiknya pasir jenis ini tidak digunakan untuk bahan bangunan.
    Agregat kasar : agregat yang semua butirnya tertingal diatas ayakan berlubang 4,8mm (SII.0052,1980) atau 4,75 (ASTM C33,1982) atau 5,0mm (BS.812,1976).
Persyaratan
Nilai
Abrasi, Los Angeles Abrasion Test (AASHTO T 96-87)
Maksimal 40%-50%
Pelapukan berdasarkan, Soundness Test (AASHTO T 104-90)
Maks. 12 % sodium sulfat
Maks 18% magnesium sulfat
Kelekatan pada aspal (AASHTO 182-86)
Minimum 95%
Kekuatan terhadap beban tumbukan (impact) AIV (BS 812)
Maks 30 %
Kekuatan terhadap beban tumbukan (crushing) ACV (BS 812)
Maks 30%
Indeks kelonjongan dan kepipihan (BS 812)
Maks 25%
Persyaratan Umum Agregat Kasar
Sumber : AASHTO (1990) dan BS (1975)
·         Agregat berdasarkan proses terbentuknya
  1. Sedimentary rock
Agregat ini berasal dari hasil endapan halus dan hasil pelapukan batuan bebas, tumbuhan dan binatang akibat proses pelekatan dan penekanan oleh alam.
Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Klastik, tersusun atas fragmen-fragmen dan bagian-bagian kecil yang terbawa dalam keadaan padat. Klastik dibagi menjadi siliklastik (terdiri dari bagian-bagian kecil silikat seperti batu pasir, lempung), piroklastik (terdiri dari dari material-material vulkanik seperti tuff, lapili), dan kapur (ter).
2. Kimiawi, batuan sedimen yang diendapkan dari larutan. Batuan ini dibagi menjadi evaporit (penguapan gips, garam), kapur (pengendapan), dan dan endapan kimiawi lainnya seperti besi dan fosfat.
3. Organik, yang dibagi menjadi kapur serta gambut, batubara, dan sapropel yang merupakan sedimen dengan banyak zat organik yang membentuk minyak bumi.
  1. Vulcanic rock
Agregat ini terjadi akibat pendinginan dan pembekuan dari bahan-bahan yang meleleh akibat panas (magma bumi) baik di dalam lapisan bumi maupun akibat letusan gunung berapi. Vulcanic rock dibedakan menjadi 2 :
-          batuan ekstrusip : batuan yang membeku di permukaan bumi
-          batuan intrusip : batuan yang membeku di bawah permukaan bumi
  1. Methamorphic
Agregat ini terjadi akibat modifikasi batuan beku baik secara fisika maupun kimia yang tertekan oleh gesekan bumi dan pengaruh perubahan suhu yang berlebihan sehingga batu menjadi tidak homogen.
Contoh:
§  Batuan  kapur yang berubah menjadi marmer
§  Batuan pasir berubah menjadi kuarsa
Proses methamorpic terbagi 2 yaitu sebagai berikut :
v  Metamorphosis regional : perubahan bentuk dalam skala besar yang dialami batuan di dalam kulit bumi yang lebih dalam, sehingga terbentuknya pegunungan (vulkanik).
v  Metamorphosis kontak : perubahan bentuk yang dialami batuan yang mengakibatkan intrupsi magma panas disekitarnya.







Klasifikasi umum batuan
Batuan Induk
Kelompok Batuan
Nama Batu
Batuan Sedimen
Karbonat
Batu gamping
Dolomite
Silika
Pasir Kelempungan
Batu pasir
Kert/Rijang
Konglomerat
Breksi
Batuan Metamorpik
Batuan Foliasi/berurat
Gneiss
Skista /Sekis
Ampibolit
Batu tulis / slit
Batuan Nonfoliasi / tidak berurat
Kuarsa
Pualam
Serpentinit
Batuan Beku
Batuan Beku dalam
Granit
Sienit
Dierit
Gabro
Peridotit
Pirokenit
Hormoblende
Batuan beku luar
Obsidian
Pumis
Tuffa
Riolit
Trakit
Andesit
Diabas
Basal


Pengujian Agregat

Tujuan pengujian agregat:
            Mendapatkan bahan-bahan campuran beton yang memenuhi syarat sehingga beton yang dihasilkan sesuai dengan yang direncanakan.
Standard mutu agregat:
-          SII 0052,80 (mutu dan cara uji agregat beton)
-          ASTM C33,82 (standard specification for concrete aggregates)
-          ASTM C330,80 (standard specification for light weight for structural concrete)

Agregat halus
v  Modulus halus butir (MHB) ; 1,5 – 3,8
Rumus untuk mencari MHB:
MHB = ∑ % kumulatif dari butir agregat
v  Kadar Lumpur
Kadar Lumpur / bagian yang lebih kecil dari 70 mikron (0,075mm) maksimum 5%.
v  Kadar zat organic
Kadar zat organic yang terkandung ditentukan dengan mencampur agregat halus dengan larutan natrium sulfat (Na3SO4) 3%. Bandingkan warna larutan perendam dengan warna standar/pembanding tidak lebih tua dari warna standar.
v  Kekerasan butiran
Kekerasan butiran jika dibandingkan dengan kekerasan butir pasir pembanding yang berasal dari pasir kuarsa bangka yang memberikan angka tidak lebih dari 2,20.
v  Kekalan
Maksimum bagian yang hancur jika diuji dengan:
-          Natrium sulfat : 10 %
-          Magnesium sulfat : 15 %

Agregat kasar
v  Modulus Halus Butir (MHB): 6.0 -7.1
v  Kadar Lumpur
Kadar Lumpur / bagian yang lebih kecil dari 70 mikron (0,0075mm) maks 1%.
v  Kadar bagian lemah
Jika diuji dengan goresan batang tembaga maks. 5%
v  Kekalan
Maksimum bagian yang hancur jika di uji dengan:
-          Natrium sulfat : 12 %
-          Magnesium sulfat : 18 %
v  Sifat reaktif
Tidak bersifat reaktif terhadap alkali jika kadar alkali dalam semen (Na2O) > 0,6%
v  Kandungan butiran panjang
Tidak mengandung butiran yang panjang dan pipih lebih dari 20 %
v  Kekerasan agregat
Kelas dan Mutu Beton
Kekerasan dengan bejana Rudelloff bagian hancur menembus ayakan 2mm (%) maks
Kekerasan dengan bejana geser Los Angeles, bagian hancur menembus ayakan 1,7mm (%) maks
Fraksi Butir 9,5mm-19mm
Fraksi Butir 19mm -30 mm
Beton kelas I dan mutu Bo dan Br
22 – 30
24 – 32
40 – 50
Beton kelas II dan mutu K125, K175, K225
14 -22
16 – 24
27 - 40
Beton kelas III dan mutu > K225 / beton pratekan
<14 div="">
< 16
< 27


Pengujian Agregat
  1. Berat jenis dan penyerapan
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam pengujian ini yaitu diharapkan dapat menentukan berat jenis dan prosentase beratair yang dapat diserap agregat kasar dihitung terhadap berat kering sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai yaitu sebagai berikut:
            1. Menentukan berat jenis agregat kasar dalam keadaan kering oven.
            2. Menentukan berat jenis agregat kasar dalam jenuh air kering permukaan (SSD)
   3. Menentukan kadar air agregat kasr dalam keadaan kering permukaan jenuh air       (SSD).
4. Menerangkan kegunaan pemeriksaan ini dalam kaitannya dengan perhitungan rancangan susunan campuran beton.
5. Menggunakan peralatan yang dipakai.
Cara uji penyerapan air agregat kasar dan halus ini dimaksudkan untuk memberi tuntunan dan arahan bagi para pelaksana di laboratorium dalam melakukan pengujian air agregat kasar dan halus. Dalam pelaksanaannya berat jenis curah adalah suatu sifat yang pada umumnya digunakan dalam menghitung volume yang ditempati oleh agregat dalam berbagai campuran yang mengandung agregat termasuk beton semen, beton aspal dan campuran lain yang diproporsikan atau dianalisis berdasarkan volume absolut.
Angka penyerapan digunakan untuk menghitung perubahan berat dari suatu agregat akibat air yang menyerap ke dalam pori di antara partikel utama dibandingkan dengan pada saat kondisi kering, ketika agregat tersebut dianggap telah cukup lama kontak dengan air sehingga air telah menyerap penuh. Agregat yang diambil dari bawah muka air tanah akan memiliki penyerapan yang lebih besar apabila digunakan, bila tidak dibiarkan mengering. Sebaliknya, beberapa jenis agregat apabila digunakan mungkin saja mengandung kadar air yang lebih kecil bila dibandingkan dengan kondisi terendam selama (24+4) jam.



  1. Analisa Saringan
Tujuan dari pengujian analisa saringan yaitu dapat menghitung perbandingan agregat halus dan kasar menjadi agregat gabungan yang mempunyai gradasi yang diinginkan sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai:
1. Menentukan gradasi agregat halus dan agregat kasar dengan mengunakan hasil analisa saringan/ayakan.
2. Mengunakan peralatan yang diperlukan.
3. Menggambarkan data hasil pemeriksaan ke dalam grafik gradasi.
Dalam campuran beton dibutuhkan agregat kasar dan agregat halus yang bagus, maka harus dilakukan pengujian agregat sehingga mendapatkan agregat yang sesuai. Agregat yang sesuai adalah agregat dalam kondisi SSD, setelah agregat dalam kondisi SSD, agregat perlu dilakukan analisa saringan, dalam hal ini analisa saringan dimaksudkan untuk mengetahui MHB pada agregat, MHB adalah indek yang dipakai untuk mengukur kehalusan atau kekasaran suatu butir-butir agregat hal ini dimaksudkan untuk mengetahui besar kecil diameter suatu agregat yang dipakai untuk mencari perbandingan pada campuran agregat.

  1. Kadar Lumpur
Tujuan dari pengujian ini untuk menentukan prosentase kadar lumpur dalam agregat halus. Hal ini dilakukan karena lumpur tidak diizinkan dalam jumlah banyak , ada kecenderungan meningkatnya pemakaian air dalam campuran beton , jika ada bahan – bahan itu tidak dapat menyatu dengan semen sehingga menghalangi penggabungan antara semen dan agregat serta mengurangi kekuatan tekan beton.
Dalam pemeriksaan kadar lumpur agregat digunakaan standard SNI 03 – 4141 – 1996 , metode ini digunakan untuk menghitung besarnya persentasi gumpalan lempung dan butiran – butiran mudah pecah dalam agregat halus maupun kasar. Menurut SII. 0052 kadar lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 70 mikron (0.074 mm) maksimum 5% (PBI 1971).
  1. Bobot isi
Tujuan dari pengujian bobot isi ini diharapkan dapat mengetahui bobot isi dari agregat yang dibuat .
Perbedaan berat isi dan berat jenis adalah dari volumenya. Berat jenis adalah perbandingan antara berat benda dengan dengan volume mutlak dari benda itu sendiri, sedangkan berat isi adalah perbandingan antara berat benda (agregat) berbanding dengan volume alat. Pengujian berat isi pada agregat berguna untuk mengkonversi dari satuan berat ke satuan volume. Dalam merancang campuran beton komposisi bahan ditentukan dalam satuan berat.
                        Berat isi pada agregat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berat jenis, gradasi agregat, bentuk agregat, diameter maksimum agregat. Dalam SII No. 52 – 1980, berat isi untuk aggregat beton disyaratkan harus lebih dari 1.2 Kg/liter.
  1. Kekerasan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pengujian kekerasan ini yaitu diharapkan dapat menentukan agregat kasar untuk pembuatan suatu konstruksi beton berdasarkan kekerasannya sedangkan tujuan khususnya diharapkan dapat :
1. Menerangkan prosedur pelaksanaan pengujian kekerasan agregat kasar dengan menggunakan bejana tekan ( berdasarkan standar British )
2. Menentukan sifat keras terhadap daya hancur dari agregat kasar
3. Menggunakan peralatan yang diperlukan
Untuk memeriksa agregat kasar ,kerikil alam dan batu pecah dilakukan sama seperti pengujian pada pasir ditambah dengan pemeriksaan kekerasan dan ketahanan aus.
a)  Pemeriksaan Kekerasan kerikil dilakukan dengan bejana Rudellof, bagian yang hancur ( tembus ayakan 2 mm) tidak boleh lebih dari 32 %
b) Pemeriksaan ketahanan aus dilakukan dengan mesin uji aus “ LOS ANGELES”, bagian yang hancur tidak boleh lebih dari 50 %.
c)      Pemeriksaan Berat Jenis dan Daya Serap Air Agregat kasar

  1. Keausan

                        Ketahanan agregat terhadap penghancuran (degradasi) diperiksa melalui percobaan abrasi Los Angeles Test. Agregat mengalami aus karena cuaca, percampuran, dan gaya pada penghampuran serta pemadatan. Oleh karena itu, diharapkan agregat harus memiliki daya tahan yantg cukup terhadap pemecahan (crushed), penurunan mutu (degradasi), dan penghancuran (desintegrasi).
  1. Kadar Organik
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan adanya bahan organic dalam agregat halus. Kandungan bahan organic yang berlebihan pada unsure bahan beton dapat mempengaruhi kualitas beton. Kadar oeganik adalah bahan- bahan yang terdapat didalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton.
  1. Sifat reaktif terhadap alkali
Reaksi antara alkali (Na2O, K2O) yang terdapat pada semen dengan silika aktif yang terkandung dalam agregat, biasanya terdapat pada batuan cherts, batu kapur dan beberapa jenis batuan beku. Jenis agregat ini akan bereaksi dengan alkali yang ada dalam semen dan membentuk gel-silika, sehingga agregat mengembang/membengkak dan menyebabkan timbulnya retak serta penguraian beton
-          Silika
Tujuan penelitian sifat reaktif agregat terhadap silika yaitu untuk mengetahui sifat reaktif dari agregat kasar dan agregat halus terhadap alkali-silika dengan pengujian agregat kimiawi. Peraturan dan persyaratan yang digunakan yaitu ASTM C-289.
-          Uji kandungan sulfat dan klorida pada agregat halus
Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan sulfat dan klorida pada agregat halus dengan pengujian kimiawi agregat. Peraturan dan persyaratan yang digunakan untuk kandungan sulfat yaitu ASTM D-516 sedangkan untuk klorida ASTM D-512.

  1. Kandungan butir agregat
Tujuan dilakukannya pengujian kandungan butir agregat yaitu dikarenakan adanya factor yang mempengaruhi bentuk butiran :
* luas permukaan agregat
* Jumlah air pengaduk pada beton
* Kestabilan/ketahanan (durabilitas) pada beton
* Kelecakan (workability)
* Kekuatan beton
Keadaan permukaan agregat berpengaruh pada daya ikat antara agregat dengan semen.

Metoda pencampuran agregat
      Alasan dilakukannya pencampuran agregat yaitu dikarenakan tidak memenuhinya spesifikasi yang diinginkan. Macam-macam metoda yang digunakan untuk pencampuran agregat :
  1. Trial and Error (coba-coba)
  2. Cara Grafis
  3. Cara perhitungan
  4. Cara Diagonal
           
Perhitungan Analisa Agregat Gabungan Cara Diagonal
Agregat
Kasar
sedang
halus
Combined Gradation
Target value
Spesificaion
Persent used
46
26
28
u.s.seve
% pas
% batch
% pas
% batch
% pas
% batch
1”
100
46
100
26
100
28
100
100
100
¾”
80.81
37,17
100
26
100
28
91,17
90
80-100
3/8”
47.58
21,88
100
26
100
28
75,88
70
60-80
No.4
27.45
12,62
79.14
20,57
100
28
61,20
56,50
48-65
No.8
16.73
7,69
53.87
14,00
87.02
24,36
46,06
42,50
35-50
No.30
7.79
3,58
26.01
6,76
51.80
14,50
24,85
24,50
19-30
No.50
5.07
2,33
17.96
4,66
36.18
10,13
17,13
18,00
13-23
No.100
3.03
1,39
12.50
3,25
24.19
6,77
11,41
11,00
7-15
No.200
1.32
0,60
8.15
2,11
12.28
3,43
6,16
4,50
1-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar