alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar alt/text gambar

Sabtu, 01 Februari 2014

HUBUNGAN KADAR ASPAL DENGAN UMUR PELAYANAN JALAN PADA PERKERASAN LENTUR.

a.    Specific Gravity (SG), adalah rasio antara berat agregat dengan volume campuran. Terdapat 3 jenis SG agregat dalam campuran tergantung sifat penetrasi aspal ke dalam agregat, yaitu:
·         Bulk SG, dengan asumsi: aspal hanya menyelimuti agregat dipermukaan saja, tidak meresap ke bagian yang permeable.
·         Apperent SG, dengan asumsi: aspal meresap ke dalam agregat dengan tingkat resapan sama dengan air.
·         Effective SG,  dengan asumsi aspal meresap ke dalam agregat dengan tingkat resapan lebih rendah dari pada air.
b.    Voids in Mix (VIM), adalah volume pori/rongga di antara partikel agregat yang diselimuti aspal dalam campuran yang telah dipadatkan, yang dinyatakan dalam (%) terhadap volume total campuran.
c.    Voids in Mineral Aggregates (VMA), adalah volume pori di antara partikel agregat dalam campuran yang telah dipadatkan, termasuk pori yang terisi oleh aspal, yang dinyatakan dalam (%) terhadap volume total campuran.
Gambar 02: Ilustrasi pengertian VIM dan VMA (Sukirman, 2003:86)
d.   Voids Filled with Bitumen (VFB), adalah volume pori di antara partikel-partikel agregat yang terisi aspal dalam campuran padat, yang dinyatakan dalam (%) terhadap volume total campuran.
e.    Stability, adalah ketahanan perkerasan menahan deformasi karena beban lalu-lintas. Stabilitas dinyatakan dalam (kg) (The Asphalt Institute, 1983).
f.     Flow, adalah angka yang menunjukkan besarnya penurunan vertikal pada benda uji, yang dinyatakan dalam mm atau 0,01” (The Asphalt Institute, 1983).
g.    Marshall Qoutient (MQ), adalah angka yang menyatakan tingkat kelenturan (flexibilty) suatu campuran. MQ merupakan hasil bagi stability terhadap flow, yang dinyatakan dalam (kN/mm).
h.    Kadar Aspal Optimum, adalah kadar aspal yang memberikan hasil yang memenuhi spesifikasi dari keseluruhan nilai karakteristik yang ada.
Analisis
A.      Hubungan Kadar Aspal dengan Specific Gravity (SG)
Specific Gravity (SG) merupakan sifat agregat yang penting, yang dapat dipergunakan untuk menghitung parameter perencanaan campuran aspal, seperti SG mix, porositas, VMA, dan VFB. Grafik 01 menggambarkan contoh hubungan kadar aspal dengan SG mix. Dari grafik ini dapat dibaca bahwa semakin tinggi kadar aspal semakin tinggi nilai SG mix. Ini berarti campuran ini masih banyak mengandung pori/rongga, sehingga penambahan aspal akan menambah berat campuran dalam volume yang sama.
Grafik 01: Hubungan Kadar Aspal dengan SG mix.
B.       Hubungan Kadar Aspal dengan VIM
Masalah di lapangan yang sering terjadi, kadar rongga akhir selalu tinggi atau pada saat pemadatan selesai. VIM dicapai lebih besar dari 6%. Akibat yang terjadi adalah munculnya retak dini, pelepasan butir, dan pengelupasan. VIM dapat manjadi indikator durability dan kemungkinan bleeding.
Dari Grafik 02. dapat dilihat bahwa penambahan penambahan kadar aspal menyebabkan rongga dalam campuran mengecil, hal ini disebabkan aspal mampu mengisi lebih banyak rongga-rongga yang ada sehingga campuran menjadi lebih rapat atau rongga menjadi makin kecil dan makin sedikit. DPU 2008 (VI-41) menginjinkan nilai VIM 3,5 - 5,5%.
Grafik 02: Hubungan Kadar Aspal dengan VIM.
Campuran yang mengalami pemadatan karena lalu-lintas berat di mana VIM dicapai kurang dari 3,5% akan mengakibatkan alur plastis dan jembul. Nilai VIM lebih dari 5,5 % mengakibatkan campuran tidak kedap air. Di damping itu, kadar aspal menjadi tinggi dapat pula disebabkan oleh fasilitas pencampuran yang kurang baik, atau adanya sejumlah bahan filler lolos Saringan No.200 yang tinggi.
Garis VIM std adalah hasil yang diperoleh dengan Metode Marshall, yaitu 75 kali tumbukan tiap sisinya. Garis VIM PRD adalah hasil yang diperoleh dari pemadatan PRD, di mana prosedurnya sama dengan Metode Marshall hanya saja jumlah tumbukan 400 kali untuk mould  yang berdiameter 4” dan 600 kali tumbukan untuk mould yang berdiameter 6” pada tiap sisinya.
C.       Hubungan Kadar Aspal dengan VMA
Dari Grafik 03. Dapat dilihat bahwa penambahan kadar aspal menyebabkan VMA semakin menurun. DPU 2008 (VI-41) memberikan prosentase minimum sebesar 14%. Dari grafik hasil percobaan ini menunjukkan garis hubungan tidak mempunyai nilai minimum tetapi berada di atas batas minimum, maka perlu ditambahkan kadar aspal pada benda uji.
Rongga minimum dalam agregat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekurangan aspal dalam campuran yang mengakibatkan butiran dalam campuran lepas, campuran retak (crack), sehingga umur layanan menkadi lebih pendek. VMA juga dapat dijadikan indikator terhadap durability campuran.
Grafik 03: Hubungan Kadar Aspal dengan VMA
Nilai VMA dapat ditambah dengan menyediakan rongga yang cukup untuk aspal dan VIM, yaitu dengan mengatur gradasi agregat. Penambahan proporsi agregat kasar atau halus dan pengurangan bahan pengisi / filler mengaikibatkan volume rongga semakin besar.
D.      Hubungan Kadar Aspal dengan VFB
VFB adalah bagian dari VMA yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang terabsorbsi oleh masing-masing butir agregat (Sukirman, 2003:89). Dengan demikian, aspal VFB adalah aspal yang berfungsi untuk menyelimuti butir-butir agregat dalam campuran padat. VFB inilah menjadi film atau selimut aspal, yang menjadi indikator tentang durability campuran.
Dari grafik 04. dapat dilihat bahwa peningkatan kadar aspal dalam campuran menyebabkan rongga-rongga dalam campuran semakin banyak terisi aspal. Hal ini menunjukkan tidak adanya halangan bagi aspal dalam mengisi rongga-rongga yang ada.
DPU 2008 (VI-41) memberikan toleransi minimum VFB sebesar 63%. Nilai minimum ini untuk mencegah terjadinya keausan lapisan perkerasan jalan.
Grafik 04. Hubungan Kadar Aspal dengan VFB
VFB membatasi level maksimum  VMA, sekaligus membatasi level maksimum penambahan kadar aspal VFB juga membatasi rongga udara untuk campuran yang mendekati kriteria VMA. Kriteria dari VFB membantu agar campuran tidak mudah rutting terhadap beban lalu-lintas berat.
E.       Hubungan Kadar Aspal dengan Stability
Dari Grafik 05. dapat dilihat penambahan kadar aspal menaikkan nilai stabilitas. Ini menunjukkan bahwa dengan bertambahnya aspal menyebabkan penguncian antar partikel agregat dan daya ikat aspal terhadap agregat menjadi lebih kuat, juga daya adhesi dan kohesi dari aspal menjadi lebih baik.
Penambahan kadar aspal yang terus menerus tidaklah menyebabkan nilai stabilitas semakin tinggi, karena sudah tidak efektif lagi. Kadar aspal yang terlalu tinggi menyebabkan aspal tidak dapat menyelimuti agregat dengan baik. Aspal yang berlebihan tidak mampu lagi diserap oleh rongga dalam campuran, apabila ada beban lalu-lintas yang menambah pemadatan lapisan, mengakibatkan aspal meleleh keluar, yang disebut bleeding.
Grafik 05. Hubungan Kadar Aspal dengan Stabilitas.
DPU 2008 (VI-41) memberikan batasan stabilitas minimum sebesar 800 kg. Dari grafik dapat dilihat pada kadar aspal 6% stabilitas mencapai nilai tertinggi. Penambahan kadar aspal yang melampui 6% sudah menunjukkan penurunan nilai stabilitas. Stabilitas yang terlalu tinggi menyebabkan perkerasan mudah retak dan bila terlalu rendah mudah terjadi deformasi.
F.        Hubungan Kadar Aspal dengan Flow
Kelelehan plastis (flow) merupakan indikator terhadap lentur. Pada Grafik 06. diperlihatkan  bahwa dengan penambahan kadar aspal mengakibatkan bertambahnya nilai kelelehan plastis (flow). Hal ini disebabkan karena bertambahnya aspal yang mengisi rongga sehingga volume rongga semakin kecil.
Rongga terisi aspal yang semakin membesar membuat rentang kelelehan aspal makin besar, sehingga benda uji lebih mampu mengikuti perubahan bentuk sampai benda uji tersebut hancur karena pembebanan.
Grafik 06: Hubungan Kadar Aspal dengan Flow.
DPU 2008 (VI-41) memberikan batasan minimum untuk flow sebesar 3 mm. Flow dibutuhkan agar perkerasan mempunyai daerah mulur akibat pembebanan. Pada saat terjadi pembebanan campuran mulur / memanjang untuk mengikuti pembebanan agar perkerasan tidak retak.
Dalam grafik diperlihatkan, semakin kecil kadar aspal semakin kecil pula nilai flow. Itu berarti perkerasan mudah retak. Tetapi besarnya flow juga dibatasi untuk mencegah terjadi gelombang dan alur pada perkerasan, sehingga perkerasan memberikan kenyamanan dan keamanan berlalu-lintas.
G.      Hubungan Kadar Aspal dengan MQ
Nilai MQ merupakan pendekatan terhadap kekakuan dan kelenturan dari suatu lapis perkerasan. Bila campuran mempunyai nilai MQ yang tinggi berarti campuran itu kaku atau fleksibilitasnya rendah.
Pada grafik 07. dapat dilihat pada kadar aspal 5,5% MQ mencapai nilai maksimum, dan menurun dengan penambahan kadar aspal. DPU 2008 (VI-41) memberi batasan minimum 250 kg/mm. Dengan demikian MQ dapat dijadikan indikator terhadap kelenturan (flexibility) yang potensial terhadap keratakan.
Grafik 07: Hubungan Kadar Aspal dengan MQ
H.      Penentuan Kadar Aspal Optimum
Oleh karena rentang kadar aspal dari masing-masing parameter berbeda-beda, maka perlu diupayakan untuk mencari kadar aspal yang memenuhi semua persyaratan dari parameter di atas, yang disebut dengan kadar aspal optimum. Kadar aspal optimum ditentukan sebagai nilai tengah dari rentang kadar minimum dan maksimum yang memenuhi semua persyaratan nilai karakteristik campuran perkerasan jalan. Pada grafik 08. Dalam contoh ini, interval yang memenuhi syarat 5,2% - 5,8%, sehingga didapat nilai kadar apal optimum adalah sebesar 5,5%.
Grafik 08: Penentuan Kadar Aspal Optimum.
Simpulan
Dari hasil analisis grafik-grafik di atas dapat disimpulkan pengaruh kadar aspal terhadap karakteristik campuran, yaitu:
1.      Spesific Grafity (SG) akan bertambah dengan bertambahnya kadar aspal sampai pada batas maksimum kemudian nilainya menurun.
2.      Voids in Mix (VIM) menurun secara konsisten dengan bertambahnya kadar aspal.
3.      Voids in Mineral Agregates (VMA) umumnya menurun kemudian bertambah dengan bertambahnya kadar aspal.
4.      Voids Filled with Bitumen (VFB) secara konsisten bertambah dengan bertambahnya kadar aspal.
5.      Stabilitas bertambah dengan bertambahnya kadar aspal sampai batas maksimum kemudian menurun.
6.      Secara konsisten flow naik dengan bertambahnya kadar aspal.
7.      Marshall Qoutient (MQ) bertambah dengan bertambahnya kadar aspal sampai pada batas maksimum kemudian menurun.
Kadar aspal sangat besar pengaruhnya terhadap karakteristik campuran. Oleh sebab itu harus diupayakan secara seksama agar diperoleh kadar aspal optimum. Pada contoh grafik-grafik diatas diperoleh kadar aspal optimum sebesar 5,5%. Campuran pada kadar aspal optimum memungkinkan perkerasan memberikan pelayanan sesuai dengan umur rencana pelayanan yang pada umumnya dicanangkan selama 20 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar